Modul Bahasa Indonesia Kelas XI Tahun Pelajaran 2013 / 2014

Posted: September 27, 2013 in Bahasa Indonesia, Pelajaran

MODUL
BAHASA INDONESIA
SMK NEGERI 1 BOJONGGEDE
TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

DI SUSUN OLEH :
H. SYUKUR HERYASUMIRAT, S. Pd, MM
NIP : 195605091975121001

BAB I
MENYIMAK UNTUK MENYIMPULKAN INFORMASI YANG TIDAK BERSIFAT PERINTAH DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Kegiatan Menyimak dan Memahami Informasi Nonverbal
Menyimak adalah kegiatan menyerap informasi yang disampaikan secara lisan dengan tidak sekedar menggunakan indera pendengaran tapi juga berupaya menangkap isi atau pesan serta memahami makna informasi yang disampaikan.
Ada beberapa macam menyimak, diantaranya adalah menyimak intensif, menyimak ekstensif, menyimak deskriminatif dan menyimak untuk pemecahan masalah.
Informasi dapat berbentuk verbal dan nonverbal. Informasi verbal ialah informasi berbentuk uraian atau penjelasan. Informasi nonverbal ialah informasi berbentuk visual seperti grafik, diagram, table, bagan, peta, denah dan matriks.
B. Pengalihan Informasi Verbal menjadi Nonverbal
Hal – hal yang perlu diperhatikan untuk mengalihkan informasi verbal ke informasi nonverbal, yaitu :
1. Perhatikan dengan saksama isi informasi verbal yang ingin diubah.
2. Perhatikan data – data berupa lambang, satuan atau angka – angka serta perbandingannya untuk menentukan bentuk visual yang efektif, apakah grafik, table, diagram dan yang lainnya.
3. Catatlah hal – hal pokok atau inti dari informasi yang disimak.
4. Buatlah bentuk nonverbal yang tepat untuk mengungkapkan informasi tersebut.
5. Gambar, bagan atau grafik dibuat dengan baik, benar, tepat dan seimbang dengan isi.
6. Tentukan warna – warna, lambang atau bentuk untuk menggambarkan atau membedakan data – datanya.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 3
C. Menyampaikan Pendapat melalui Simpulan Secara Deduktif Induktif
Penyimpulan secara deduktif yaitu cara mengambil simpulan dari pernyataan yang bersifat umum diikuti oleh uraian atau pernyataan – pernyataan yang bersifat khusus.
Penyimpulan secara induktif yaitu cara mengambil simpulan dari pernyataan – pernyataan atau fakta – fakta yang bersifat khusus menuju ke suatu simpulan yang bersifat umum.
Simpulan yang disampaikan dapat diperoleh dari informasi lisan maupun tulisan baik informasi lisan yang bersifat verbal maupun informasi tulisan yang berbentuk nonverbal. Simpulan dapat disertakan dengan opini atau pendapat.
TUGAS MANDIRI
Mintalah salah seorang siswa membacakan wacana yang terdapat di awal bab, sedangkan siswa lainnya menyimak. Setelah menyimak lakukan hal berikut.
1. Catatlah pokok – pokok informasi.
2. Dari pokok informasi yang dicatat, buatlah informasi berbentuk nonverbal !
3. Susunlah sebuah simpulannya secara deduktif atau induktif yang disertakan opini Anda.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 4
BAB II
MENYIMAK UNTUK MEMAHAMI PERINTAH YANG DIUNGKAPKAN ATAU YANG TIDAK DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian dan Ciri Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi peintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu atau kalimat yang dipakai untuk mendapatkan tanggapan sesuai dengan kehendak penuturnya.
Ciri – ciri kalimat perintah :
1. Menggunakan partikel –lah
2. Berpola kalimat inverse ( PS )
3. Menggunakan tanda seru ( ! ) bila digunakan dalam bahasa tulis
4. Kalimat perintah jika dilisankan berintonasi menaik di awal dan berintonasi rendah di akhir
B. Jenis – jenis Kalimat Perintah
1. Kalimat perintah biasa
2. Kalimat perintah ajakan
3. Kalimat perintah larangan
4. Kalimat perintah permintaan
5. Kalimat perintah permohonan
6. Kalimat perintah pembiaran
7. Kalimat perintah sindiran
8. Kalimat perintah yang menuntut proses atau langkah kerja
9. Kalimat perintah yang berbentuk kalimat berita
Kalimat perintah dapat diperhalus dengan menggunakan unsure – unsure berikut.
1. Menggunakan kata – kata seperti mohon, tolong, sudilah, harap, silakan, hendaknya, sebaiknya.
2. Menggunakan partikel –lah .
3. Pengubahan ke struktur tanya.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 5
4. Pengubahan ke struktur berita.
C. Berbagai Respons Terhadap Perintah
Langkah yang perlu kita tempuh dalam menanggapi perintah :
1. Membaca kembali isi perintah secara hati – hati, teliti, dan saksama.
2. Merumuskan / menuliskan kembali isi perintah.
3. Isi perintah ditulis dalam bentuk kerangka / bagan sehingga mudah dipahami.
4. Membuat perencanaan dalam bentuk kerangka / table / bagan segala kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka memenuhi perintah.
5. Meminta konfirmasi kepada pemberi perintah akan ketepatan rencana kegiatan yang telah disusun.
TUGAS MANDIRI (TUGAS KELOMPOK )
Bentuklah kelompok terdiri atas 4 – 5 orang. Anggap saja setiap kelompok diperintahkan oleh Pembina OSIS / Kepala Sekolah untuk melakasanakan kegiatan ( penentuan jenis kegiatan diserahkan pada kelompok ). Lalu, setiap kelompok melakukan langkah – langkah berikut.
1. Rumuskanlah hal – hal yang akan dilakukan oleh tim kerja !
2. Susunlah agenda atau jadwal kerja panitia !
3. Buatlah struktur kerja berbentuk bagan !
4. Susunlah daftar pertanyaan untuk konfirmasi !
5. Presentasikanlah di depan kelas semua langkah kerja tersebut !
Kelompok lain mengomentari.
( Ilustrasi bisa dikembangkan di luar sekolah, misalnya di lingkungan RT, RW atau kantor )
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 6
BAB III
MEMAHAMI PERINTAHKERJA TERTULIS DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Mengenal Bentuk Perintah Kerja Tertulis
Bentuk perintah tertulis dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu himbauan / larangan, petunjuk, peraturan, pedoman dan undang – undang.
B. Model – model Surat Berisi Perintah Kerja
Surat adalah suatu alat atau sarana komunikasi tertulis. Surat yang berhubungan dengan pekerjaan disebut surat dinas atau surat resmi. Model surat yang berisi informasi kerja atau perintah kerja, antara lain :
1. Surat Perintah
2. Surat edaran, yang terdiri atas surat edaran umum dan surat edaran khusus.
3. Surat Pengumuman yang dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Pengumuman lisan
b. Pengumuman tertulis
c. Pengumuman dari instansi dan surat pengumuman bukan dari instansi.
4. Memo atau Memorandum
5. Disposisi yang dibedakan menjadi disposisi langsung dan disposisi tidak langsung.
C. Perintah Kerja Berbentuk Manual
Petunjuk penggunaan yang disebut juga manual kerja merupakan perintah bagaimana melakukan pekerjaan atau perbuatan terhadap suatu objek atau alat. Petunjuk penggunaan umumnya disediakan oleh produsen barang untuk member petunjuk penggunaan barang yang bersangkutan, seperti barang – barang elektronik TV, kulkas, VCD atau HP.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 7
D. Menindak Lanjuti Perintah Kerja Tertulis
Setiap menerima perintah kerja secara tertulis dalam bentuk surat atau instruksi kedinasan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan, kita harus dapat menindaklanjutinya. Tindak lanjut tersebut mulai dari membaca perintah kerja secara teliti sampai dengan meminta konfirmasi kepada pemberi perintah akan ketepatan rencana kerja.
TUGAS MANDIRI
Untuk lebih mengenal dan memahami bentuk perintah kerja tertulis, kerjakanlah tugas berikut.
1. Carilah minimal tiga bentuk perintah kerja secara tertulis yang lainnya !
2. Jelaskan perbedaan bentuk perintah kerja secara tertulis dari segi struktur dan penggunaan bahasa !
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 8
BAB IV
MEMBACA UNTUK MEMAHAMI MAKNA KATA, BENTUK KATA UNGKAPAN DAN KALIMAT DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu :
1. Kata kerja ( verba )
2. Kata sifat ( adjektif )
3. Kata keterangan ( adverbial )
4. Kata benda ( nomina ), kata ganti ( pronominal ), kata bilangan (nurmeralia)
5. Kata tugas yang dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu (1) kata depan, (2) kata sambung, (3) kata sandang, (4) kata seru, dan (5) partikel.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1. Kata Dasar
2. Kata Turunan
3. Kata Ulang
4. Kata Majemuk
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
Selain proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan oleh dua hal, yaitu :
1. Makna kata berdasarkan hubungan referensial yang dibedakan menjadi makna denotative, makna konotatif dan makna idiomatic ( ungkapan ).
2. Makna kata berdasarkan hubungan antarmakna yang terdiri atas : sinonim, antonim dan hiponim.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 9
D. Penggunaan Kamus dalam Mencari Bentuk, Kategori dan Makna Kata
Kamus dapat membantu seseorang bukan saja untuk mencari seperti variasi bentukan kata, kelas kata dan contoh – contoh pemakaiannya, termasuk pelafalan, pedoman kata, dan bentuk ungkapannya.
E. Pemakaian Kata, Frasa dan Kalimat yang Kurang Tepat
Dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan atau tulisan masih terdapat pemakaian bahasa yang kurang cermat dalam memilih kata yang digunakan pada kalimat sehingga kalimat tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang benar. Ketidakcermatan dapat terjadi pada pemilihan bentuk kata ( proses morfologi, pemakaian kelompok kata ( frasa ), pemilihan ungkapan, atau keefektivitasan kalimat. Kesalahan juga bisa terjadi karena bentukan kata yang baru atau tidak lazim.
TUGAS MANDIRI
Agar Anda lebih memahami materi pelajaran ini, kerjakanlah tugas berikut.
1. Bacalah bacaan atau artikel di awal bab ini !
2. Daftarkanlah kata – kata yang terdapat dalam bacaan berdasarkan kelas katanya.
3. Carilah kata yang bermakna denotatif, konotatif dan berbentuk ungkapan.
4. Daftarkanlah kata yang bersinonim.
5. Tulislah antonim dari kata yang bersinonim pada no. 4
6. Tulislah kalimat yang menurut Anda kurang tepat pemakaian kata atau frasanya. Lalu, perbaikilah kalimat tersebut.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 10
BAB V
MENGGUNAKAN SECARA LISAN KALIMAT TANYA / PERTANYAAN DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian dan Fungsi Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang disampaikan dengan maksud mendapat jawaban berupa informasi, penjelasan atau pernyataan.
Kalimat tanya berfungsi untuk meminta jawaban berupa penjelasan, untuk menggali informasi, untuk klarifikasi atau konfirmasi. Kalimat tanya juga digunakan untuk tujuan – tujuan tertentu yang disebut denga kalimat tanya tersamar.
B. Jenis Kalimat Tanya
Dilihat dari pemakaian secara lisa maupun tulisan, kalimat tanya dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :
a. Kalimat Tanya Biasa
b. Kalimat Tanya Retorik
c. Kalimat Tanya untuk Konfirmasi dan Klarifikasi
d. Kalimat Tanya Tersamar
C. Mengutarakan Pendapat dengan Kalimat Tanya yang Santun
Dalam melakukan tanya jawab, kita perlu memperhatikan adab bertanya karena hal ini berhubungan dengan si penanya dan pihak yang ditanya. Adab bertanya yang baik menjadi factor utama sebagai penentu respons pihak yang ditanya. Untuk itu, kita perlu mengetahui teknik – teknik mengajukan pertanyaan agar tujuan kita tercapai.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 11
TUGAS MANDIRI
1. Bacalah wacana dialog di awal bab bersama teman sebangku Anda dengan penghayatan. Satu orang sebagai pewawancara, satunya lagi sebagai narasumber. Ucapkanlah secara lisan kalimat tanya dengan intonasi yang tepat. Lakukanlah secara bergantian !
2. Analisislah bersama teman Anda, pemakaian kalimat tanya yang terdapat pada naskah drama di atas. Klasifikasikanlah berdasarkan macamnya !
3. Buatlah dialog singkat dengan menggunakan beberapa kalimat tanya !
4. Jelaskanlah kalimat tanya yang Anda gunakan dalam dialog tersebut !
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 12
BAB VI
MEMBUAT PARAFRASA LISAN DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian Parafrasa
Parafrasa adalah pengungkapan kembali satu tuturan bahasa ke bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian. Pengungkapan kembali tersebut bermaksud menjelaskan makna yang tersembunyi.
B. Cara Membuat Parafrasa
Ada beberapa hal yang harus dilakuka dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan. Untuk membuat parafrasa lisan, langkah – langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengembangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri. Gunakan sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.
C. Memparafrasakan Puisi Menjadi Prosa
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam memparafrasakan puisi menjadi prosa ialah :
a. Bacalah atau dengarkan pembacaan puisi dengan saksama.
b. Pahami isi kandungan puisi secara utuh.
c. Jelaskan kata – kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi.
d. Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri.
e. Sampaikan secara lisan atau dibacakan.
D. Memparafrasakan Naskah Drama Menjadi Prosa atau Cerita
Jika dalam puisi banyak terdapat symbol, pada naskah drama kita harus memperhatikan unsure berikut :
1. Pahami setting atau latar cerita.
2. Pahami dialog dan ambil simpulannya secara menyeluruh.
3. Pahami penjelasan tentang tokoh yang ada di dalam kurung.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 13
E. Pola Penyajian Informasi Lisan
Penyajian atau penyampaian informasi secara lisan dapat menggunakan pola contoh, pola proses, pola sebab akibat dan pola urutan / kronologis.
1. TUGAS MANDIRI
Agar lebih memahami dan terlatih membuat parafrasa, kerjakanlah tuga berikut :
1. Bacalah bacaan di awal bab ini dengan cermat.
2. Buatlah parafrasanya sesuai dengan langkah – langkah membuat parafrasa.
3. Ungkapkan secara lisan parafrasa tersebut.
2. TUGAS KELOMPOK
1. Mintalah salah seorang siswa membacakan wacana yang terdapat pada awal bab ini
2. Dengarkan dengan saksama !
3. Buatlah parafrasa bacaan yang didengarkan tersebut, lalu sampaikan secara lisan. Mintalah teman mengomentarinya.
Lakukan secara bergantian !
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 14
BAB VII
MENERAPKAN POLA GILIR DALAM BERKOMUNIKASI
A. Menggunakan Kata, Bentuk Kata serta Kalimat yang Santun dalam Berkomunikasi
Dalam berkomunikasi yang baik seseorang dituntut untuk mempertimbangkan situasi berbicara. Pertimbangan ini memunculkan bentuk ragam berbahasa. Situasi resmi tentu berbeda dengan situasi tidak resmi. Pembicaraan pada situasi resmi cenderung menggunakan kata, bentukan kata serta ungkapan yang baku. Berbeda dengan ragam tidak resmi yang digunakan saat santai, saat bergaul dan dalam suasana akrab ( konsultatif ) tidaklah harus menggunakan bentukan kata dan susunan kalimat yang baku. Untuk mencapai komunikasi yag efektif proses penyampaian dan etika berbahasa yang santun tetap harus diperhatikan.
B. Memahami Pola Gilir dalam Berkomunikasi
Beberapa sikap yang harus dimiliki ketika menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi ialah menghargai mitra bicara, peka terhadap kesempatan, sadar akan relevansi pembicaraan serta memilih dan menggunakan kata bentukan kata dan ungkapan yang santun sesuai dengan situasi komunikasi, demi kelangsungan dan kenyamanan komunikasi.
C. Penerapan Pola Gilir dalam Berbagai Situasi
Menerapkan pola gilir komunikasi dapat terjadi pada :
1. Suasana kehidupan sehari – hari
2. Diskusi kelompok
3. Film atau sinetron
4. Naskah drama dan pementasan drama
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 15
TUGAS MANDIRI
1. Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4 – 5 orang. Kemudian tetapkanlah masing – masing anggota menjadi pemeran tokoh drama berjudu “Tangis” di atas. Lakonkanlah naskah drama tersebut dengan penghayatan dan penerapan pola gilir yang tepat !
2. Buatlah daftar acara dengan pengantar dan komentar di setiap acara, kemudian 2 orang anggota kelompom menjadi pembawa acara yang membacakan acara dengan menerapkan pola gilir yang tepat.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 16
BAB VIII
BERCAKAP – CAKAP SECARA SOPAN DENGAN MITRA BICARA DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pilihan Kata atau Ungkapan untuk Memulai Percakapan
Beberapa penyampaian bahasa Indonesia dalam berkomunikasi secara lisan dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung maksudnya berhadapan atau bertatap muka dengan mitra bicara dan tidak langsung ialah dengan menggunakan sarana seperti telepon atau media komunikasi yang lainnya.
Ragam yang digunakan dapat ragam formal, semi formal atau nonformal.
B. Salam dan Ungkapan dalam Mengakhiri Percakapan
Saat akan mengakhiri percakapan, biasanya pembicara melakukan hal – hal seperti di bawah ini.
1. Menegaskan kembali yang hal penting dari apa yang telah dibicarakan agar tetap diingat atau tak lupa untuk dilakukan.
2. Mengucapkan terimakasih.
3. Permintaan maaf.
4. Ungkapan perpisahan serta harapan.
5. Menutup percakapan dengan slam penutup.
C. Penerapan Pola Gilir dalam Percakapan secara Aktif
Agar percakapan dapat berlangsung dengan merata dalam arti setiap orang yang terlibat percakapan bisa berbicara, dapat diterapkan system pola gilir dengan cara melemparkan pertanyaan supaya mitra bicara yang lain mendapatkan kesempatan. Pengalihan topic tetap harus secara santun dan halus agar tak mengganggu kenyamanan proses percakapan yang tengah berlagsung.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 17
D. Mengalihkan Topik Pembicaraan secara Halus
Dalam suatu percakapan baik formal, semiformal maupun nonformal, pengalihan pembicaraan ke topic lain biasa terjadi. Hal ini bisa diakibatkan karena adanya keterkaitan antara satu masalah terhadap masalah lainnya atau satu topic terhadap topic lainnya.
E. Mengungkapkan Perbedaan Pendapat secara Halus
Perbedaan pendapat di antara pembicara baik pada forum diskusi atau situasi semiformal wajar terjadi. Menyampaikan pendapat yang berbeda atau menyanggah pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita dapat dilakukan secara halus.
TUGAS MANDIRI
Amatilah acara debat atau diskusi di televisi kemudian tulislah ungkapan – ungkapan yang menandakan hal – hal berikut.
a. Membuka percakapan
b. Menerapkan pola gilir
c. Memberi tanggapan
d. Mengalihkan topic pembicaraan ( jika ada )
e. Menyatakan pendapat yang berbeda dengan santun
f. Menutup perbincangan.
Beri keterangan waktu penayangan dan nama acara serta stasiun televisi atau media elektronik yang meliputnya !
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 18
BAB IX
BERDISKUSI YANG BERMAKNA DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Diskusi dan Manfaatnya
Untuk mengadakan sebuah diskusi harus dipersiapkan terlebih dahulu unsure – unsure manusia, unsure materi dan fasilitas.
B. Tugas dan Peranan Unsur Diskusi
Setiap unsure di dalam diskusi memiliki tugas dan peranannya masing – masing. Agar diskusi dapat berjalan dengan lancer, setiap unsure diskusi harus menjalankan tugas dan peranannya tersebut dengan baik.
C. Menyampaikan Pendapat dan Gagasan dalam Diskusi
Saat menyampaikan pendapat atau gagasan di dalam diskusi, gagasan yang akan disampaikan harus sesuai dengan topic yang sedang dibahas. Pendapat harus bersifat logis, yaitu dapat diterima oleh akal disertai alasan – alasan serta bukti dan fakta – fakta sehingga pendapat yang dikemukakan dapat meyakinkan peserta diskusi yang lain.
D. Menyampaikan Tanggapan dan Sanggahan dalam Diskusi
Jika seseorang hendak mengajukan sanggahan atau penolakan atas pendapat atau usulan peserta diskusi yang lain, dapat diungkapkan dengan menghargai mitra bicara yang menyampaikan argument tersebut.
E. Mengambil Simpulan dalam Diskusi
Tujuan diskusi adalah mencapai hasil berupa kesepakatan terhadap sesuatu atau pemecahan terhadap suatu masalah.
Secara umum simpulan dapat diambil dengan melalui penalaran deduktif maupun induktif. Dalam diskusi simpulan diambil dengan berdasarkan pada fakta, data, dan opini yang tepat.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 19
TUGAS MANDIRI
Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4 – 5 0rang. Lalu, buatlah sebuah diskusi kelompok degan menentukan topic diskusi, membagi tugas sesuai unsure diskusi, dan melakukan proses diskusi dengan menerapkan tata cara menyampaikan pendapat, argumentasi dan sanggahan hingga penyusunan simpulan dengan tepat dan santun. Setelah itu, serahkan simpulan atau hasil pembahasan diskusi kepada guru untuk dinilai !
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 20
BAB X
BERNEGOSIASI YANG MENGHASILKAN DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian Negosiasi
Negosiasi adalah proses tawar – menawar degan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dengan pihak lainnya. Dari pengertian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa negosiasi adalah proses yang ditimbulkan oleh adanya unsure dua pihak, perbedaan dan keinginan untuk berunding.
B. Bernegosiasi dalam Menyusun Program Kerja
Dalam perundingan mengenai program kerja, ada program yang diterima ada juga yang tertolak atau perlu direvisi bergantung pada argumentasi pihak membuat program. Tentunya melalui tawar – menawar antara pengusul program dan pihak yang menolak. Tawar – menawar dalam merumuskan sesuatu itu wajar terjadi. Inilah yang disebut negosiasi.
C. Bernegosiasi dengan Santun
Sebuah musyawarah atau perundingan pada akhirnya harus menuju suatu keputusan yang damai dan dapat diterima semua pihak. Oleh sebab itu, proses bernegosiasi harus dilakukan dengan bahasa santun menggunakan ungkapan yang tidak bernuansa konflik. Sanggahan yang diutarakan juga dengan alasan yang tepat dan dapat meyakinkan orang lain. Jika butuh sebuah perincian, kemukakan dengan lugas dan tidak berputar – putar sehingga tidak membuat orang salah pengertian.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 21
TUGAS MANDIRI
Bagilah kelas menjadi 8 kelompok. Setiap kelompok dipasangkan dengan kelompok lainnya sehingga ada 4 kelompok berpasangan. Setiap kelompok yang sudah berpasangan masing – masing akan menjadi pihak ke – 1 dan pihak ke – 2 yang akan bernegosiasi. Lakukanlah kegiatan negosiasi dengan persoalan berikut ini.
1. Sekolah akan mengadakan pentas seni dalam rangka HUT sekolah. Untuk mengisi acara, seksi Acara, merencanakan salah satunya mengundang penyanyi dangdut selain group band. Terjadi pro dan kontra. Pihak ke – 1 setuju, tapi pihak ke – 2 tidak setuju dengan alasan masing – masing.
2. Sekolah akan membuat peraturan bahwa siswa dilarang membawa HP ke sekolah. Hal ini lalu diserahkan ke siswa untuk dimusyawarahkan. Pihak ke – 1 setuju, tapi pihak ke – 2 tak setuju dengan argumentasi masing – masing.
3. Pihak pertama setuju acara pelepasan kelas XII diadakan di luar sekolah, pihak kedua berpendapat di dalam sekolah saja dengan bentuk acara hiburan atau pangggung.
4. Mengenai keterlibatan kelas XII dalam ekskul dan perlombaan antar sekolah, pihak pertama setuju karena punya pengalaman, tapi pihak kedua tak setuju karena akan mengganggu persiapan menghadapi ujian.
Setiap kelompok yag berpasangan memilih permasalahan di atas dan dikembangkan menjadi sebuah persoalan yang menuntut negosiasi. Seluruh siswa dalam kelompok diharapkan berlatih untuk mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat pihak lain dengan santun. Guru dapat menilai keaktifan siswa dalam kegiatan ini.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 22
BAB XI
MENYAMPAIKAN LAPORAN ATAU PRESENTASI LISAN DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian Laporan
Laporan adalah suatu cara komunikasi yang berisi informasi sebagai hasil dari sebuah tanggung jawab yang dibebankan kepada pembuatnya. Untuk membuat sebuah laporan yang baik, si pembuat laporan harus memahami beberapa hal berikut.
1. Guna laporan
2. Criteria penyampaian laporan
3. Jenis / bentuk – bentuk laporan
B. Pola Penyajian Laporan secara Lisan
Baik laporan formal maupun informal disusun dengan menggunakan bahasa yang baku. Laporan yang telah disusun bisa juga disampaikan secara lisan. Oleh sebab itu, bentuk uraian laporan dapat disajikan dengan pola penyajian narasi, deskripsi dan ekspositoris.
C. Menyampaikan Rangkuman dan Simpulan Laporan
Penjelasan tentang hasil masih merupakan bagian isi laporan. Dari pembahasan atau uraian yang ada pada isi loporan, dibuatlah suatu rangkuman dan simpulan mengenai hal yang dilaporkan.
TUGAS MANDIRI ( TUGAS KELOMPOK )
Bentuklah kelompok terdiri atas 4 orang, lalu lakukan perjalanan ke tempat tertentu yang dianggap berkesan, dapat berbentuk objek wisata, tempat pembuatan kerajinan tangan, industri kecil, museum dan lain – lain. Kemudian, susunlah laporannya dalam bentuk narasi, deskripsi, atau eksposisis. Buat pula rangkuman atau simpulannya. Presentasikanlah di depan kelas ! Kelompok lain diminta mengomentari atau memberi tanggapan.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 23
BAB XII
MEMBUAT WACANA BERCORAK NARATIF, DESKRIPTIF, EKSPOSITORIS DAN ARGUMENTATIF
A. Pengertian Wacana
Wacana adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urutan – urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacana setiap unsure – unsurnya harus memiliki kesatuan dan kepaduan.
Sebelum menulis wacana, seseorang harus menentukan tema, tujuan yang sesuai dengan bentuk wacana dan menyusun kerangka karangan. Membuat kerangka karangan sangat dianjurkan sebelum penulisan, terutama bagi pengarang pemula. Agar penyusunan kerangka karangan menjadi acuan pembuatan karangan, calon penulis sebaiknya mengetahui langkah – langkah menyusun kerangka karangan. Kerangka karangan dapat di tulis dalam dua bentuk, yaitu kerangka kalimat dan kerangka topik.
B. Jenis – jenis Wacana
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.
1. Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urutan – urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif. Unsure – unsure penting dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konflik, alur / plot, serta latar yang terdiri atas latar waktu, tempat dan suasana.
2. Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan / suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan dan pengalaman penulisnya.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 24
Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis merinci objek dengan kesan, fakta dan citraan. Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu deskripsi imajinatif / impresionis dan deskripsi faktual / ekspositoris.
3. Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci ( memaparkan ) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya – karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah – makalah untuk seminar, symposium atau penataran.
Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka karangan dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian urutan topik yang ada dan urutan klimaks dan antiklimaks.
4. Argumentasi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti – bukti dan pernyataan – pernyataan yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang.
Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu menentukan tema atau topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data atau bahan berupa : bukti – bukti, fakta atau pernyataan yang mendukung, menyusun kerangka karangan dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 25
Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab atau pola pemecahan masalah.
TUGAS MANDIRI
Agar lebih memahami dan terampil menulis wacana bercorak narasi, deskripsi, eksposisi dan argumentasi, kerjakanlah tugas berikut.
1. Bacalah wacana di awal bab. Tulislah paragraf berbentuk deskripsi dan eksposisi.
2. Carilah di Koran atau majalah contoh tulisan berbentuk narasi, deskripsi, eksposisi atau argumentasi. Jelaskan perbedaannya dari segi tema, tujuan dan sifat uraiannya.
3. Tulislah wacana bercorak :
a. Narasi yang berisi uraian secara kronologis
b. Deskripsi denga mengamati gambar atau ilustrasi. Panjang karangan 150 – 200 kata dalam waktu 30 menit
c. Eksposisi mengenai suatu peristiwa
d. Argumentasi tentang prinsip atau sikap kerja.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 26
BAB XIII
MERINGKAS TEKS TERTULIS DALAM KONTEKS BEKERJA
A. Pengertian Ringkasan
Ringkasan ( précis ) adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan karangan yang panjang dalam sajian yang singkat. “ Precis “ berarti “memotong” atau “memangkas”.
Ringkasan berbeda dengan ikhtisar, walaupun kedua istilah itu sering disamakan, tapi sesungguhnya keduanya berbeda. Ringkasan merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli namun tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang pengarang asli. Sedangkan ikhtisar sebaliknya, tidak perlu mempertahankan sistematika penulisan sesuai dengan aslinya dan tidak perlu menyajikan isi dari seluruh karangan itu secara proporsional. Dalam ikhtisar, penulis dapat langsung mengemukakan pokok uraian sementara bagian yang dianggap kurang penting dapat dibuang.
B. Cara Membuat Ringkasan
Ada beberapa cara yang dapat dijadikan pegangan dalam membuat ringkasan yang baik dan teratur, yaitu membaca naskah asli, mencatat gagasan utama, membuat reproduksi dan ketetntuan tambahan.
C. Beberapa Contoh Bentuk Ringkasan
Ringkasan dapat disusun dalam dua bentuk, yaitu bentuk verbal atau uraian ( paragraf ) dan bentuk nonverbal berupa bagan atau skema. Meskipun ringkasan dalam bentuk bagan atau skema tetapi harus mencerminkan gagasan seperti yang diungkapkan oleh teks sumbernya. Sebelum membuat bagan ataua skema, harus dicatat terlebih dulu butir – butir informasi yang akan dijadikan unsure – unsure bagan atau skema.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 27
D. Pengertian Simpulan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, simpulan adalah sesuatu yang disimpulkan; hasil menyimpulkan; kesimpulan. Simpulan juga berarti kesudahan pendapat ( pendapat terakhir yang berdasarkan uraian sebelumnya ) atau keputusan yang diperoleh berdasarkan metode berpikir induktif dan deduktif.
E. Pola Penalaran dalam Mengambil Simpulan
Dalam mengambil simpulan digunakan pola penalaran deduktif dan induktif. Penalaran deduktif terdiri atas silogisme, sebab-akibat-akibat dan akibat-sebab-sebab.
Pola penalaran
Bermulai dari pengungkapan hal – hal yang khusus, kemudian ditarik suatu simpulan yang bersifat umum. Yang termasuk pola penalaran induktif ialah generalisasi, sebab-sebab-akibat, akibat-akibat-sebab dan analogi.
Modul Bahasa Indonesia 2013 – 2014 Page 28
TUGAS MANDIRI
1. Bacalah wacana berikut, kemudian buatlah ringkasannya !
Angka mengulang kelas di tingkat SMA relative kecil, dari tahun ke tahun mengalami perbaikan. Pada tahun 2004, angka tersebut 0.88% untuk SMA swasta dan 0.85% untuk SMA negeri, berkurang menjadi 0,36% untuk SMA swasta dan 0,23% untuk SMA negeri pada 2005. Besar dan trend angka mengulang kelas antara SMA negeri dan swasta relative sama. Ini menunjukkan mutu pelayanan yang relative seimbang antara SMA negeri dan swasta.
Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di SMK. Walaupun angka ini relative kecil, pada tahun 2004 ada 756 atau 1,41% SMK swasta mengulang. Sementara di tahun yang sama, siswa SMK negeri yang mengulang hanya 0,49% atau 575 orang. Berkat kegigihan semua pihak khususnya jajaran pengelola SMK swasta, di tahun 2005 kesenjangan tersebut dapat ditekan menjadi 0,36% untuk SMK swasta dan 0,22% untk SMK negeri. Walaupun demikian dari angka tersebut, masih memperlihatkan kesenjangan mutu antara SMK negeri dan swasta yang harus dikikis.
2. Bacalah paragraf diatas, kemudian buatlah ringkasannya dalam bentuk skema atau bagan !
3. Buatlah simpulan paragraf tersebut secara induktif !
4. Buatlah contoh simpulan dengan pola penalaran deduktif :
a. Silogisme
b. Sebab-akibat-akibat
c. Akibat-sebab-sebab
5. Buatlah contoh simpulan dengan pola penalaran induktif :
a. Generalisasi
b. Sebab-akibat-akibat
c. Akibat-sebab-sebab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s